Sapamu dengan Senyummu

Engkau seorang, memang.
Walaupun seorang adanya, namun

dalam pandangku engkau sejuta pesona.

Bisa ku bilang, ‘Ya’

Adanya engkau membawa aura tersendiri, bagiku.

Baik tersenyum atau tidak, engkau

membawa ‘sesuatu’ yang masih saja ku pelajari

dari waktu ke waktu.

Benar, ‘dari waktu ke waktu’

aku mempelajarimu

Bagaimana bisa, engkau yang senang menasehatiku?

Sedang tidak ku minta sama sekali.

Engkau adalah dirimu.

Pahlawan yang berkorban mati-matian demi aku.

Sungguh!

Sapaanmu hari-hari yang lalu,

menjadi bentuk pengorbananmu, padaku.

Engkau mahkota melalui suara-suaramu,

berhias dengan rangkaian catatan berupa senyummu.

#Ibu

Iklan
Standar

Rindu

Tanpa sedikit pun rindu yang bergelora.

Entah rindu itu sudah terbuai atau membusuk pada dinding beretak

Kadang rindu itu seolah mejadi hantu

Yang sering tanpa pendirian

Kadang hilang

Hadir pun seketika,

Semu, semua semu

Terlalu pahit, ketika hati harus meradang rindu

Itu sebabnya cintaku kerap mengilu

Standar

Cintai, aku

Aku masih saja akan berlaga. Menjadi petarung wanita sejati. Bukan bab ingin menjadi juara dan menggali emas. Namun, aku disini berlaga untuk memenangkan hatimu.

Sejak berpuluh kali abad, aku tetap saja menjadi barisan ternoda. Karena kerap kali tersingkir karena keadaan. Justru bukan dari jijiknya aku, tetapi perihal bodohnya aku. 

Yah bodoh, yang selalu memujamu. Seolah tak ada penggantimu. Itulah sebabnya aku tetap saja terbang tanpa udara. Jika dikata “lelahkah dirimu?”. Lelah itu wujud dari usaha ku yang ingin mempertahankan mu. Karna lelah ku akan berwujud menjadi mahkota ku.

Standar

Senja dinestapa

Sayangku, aku bernostalgia pada mimpi lusa. Aku berharap ada senja menjelma menjadi cinta. Puing puing ini terasa syahdu, menghempas ilalang. 

Sayangku, aku ingin bergelora pada perih nya raga. Menepis segala petuah dari sudut rehbana. Aku bernestapa bagai bunga yang berkuncup dinahkoda.

Standar

” Coretan kelabu “

Kugenggam erat pena kelabuku.
Memacu jemari menggoreskan tinta,
diatas kertas putih nan lusuh,
Menjadi saksi  gundah ku.
Aku terluka.
Penaku menggenggam erat jemariku.
Mengobrak abrik seluruh ragaku.
Entah sampai kapan,
penaku berjalan menyingkap segala keluh kesahku,
berbicara pada kertas itu,

Standar

Kopi aksara

 Kucoba bersahabat dalam hembusan aksara.
 Akan ku tuliskan api asmara,
 inginku terdampar dalam rayuan pena.
 Hingga terbawa lelap nya alunan nada.
 Antara cinta dan cita,
 terbuai dalam dilema
 Kucari sajak yang sesuai liku awang ku,
 Kulukiskan dengan seteguk kopi
 Itu tepatnya
Standar